Review Film Avatar The Way of Water
Review Film Avatar The Way of Water

Review Film Avatar: The Way of Water

Posted on

Review Avatar: The Way of Water – Berikut ini beberapa ulasan tentang review film Avatar: The Way of Water yang tayang di bioskop indonesia terlebih film ini merupakan film terbaru yang tayang di tahun 2023 sekarang ini. Demi kalian para pecinta film akan kami berikan beberapa review Avatar: The Way of Water dengan kritik saran yang mudah dipahami dan dimengerti.

Baca juga:
Review Film Argantara

Review Avatar: The Way of Water

Bukan tanpa alasan mengapa Avatar (2009) dan Titanic (1997) masih nangkring di puncak box office dunia hingga saat ini. Faktor utamanya tak lain adalah peran seorang sutradara bernama James Cameron. Aksinya mulai diperhitungkan setelah menggarap film laga legendaris, The Terminator (1984).

Cameron juga dikenal sebagai sineas yang tidak pernah terburu-buru dalam berkarya, apalagi membuat sekuel. Yang paling kentara tentunya adalah Avatar yang baru mendapatkan angsuran keduanya di tahun ini, tepatnya 13 tahun setelah seri pertama rilis di tahun 2009 lalu.

Baca juga:
Review Film Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Sekuelnya berjudul Avatar: The Way of Water, yang berlangsung beberapa tahun setelah bangsa Na’vi berhasil mengusir manusia langit alias manusia dari Pandora. Di sekuel ini, Jake Sully (Sam Worthington) dan Neytiri (Zoe Saldana) telah resmi menjadi pasangan dan memimpin klan hutan yang dikenal sebagai Omaticaya.

Dalam sekuel ini, keduanya memiliki tiga orang anak bernama Neteyam (Jamie Flatters), Lo’ak (Britain Dalton) dan Tuk (Trinity Jo-Li Bliss). Jake dan Neytiri juga mengadopsi Kiri (Sigourney Weaver), putri Dr. Grace ilmuwan yang berpihak pada bangsa Na’vi di film Avatar pertama.

Baca juga:
Review Film Argantara

Sayangnya, suasana damai ini tidak bertahan lama karena umat manusia kembali mengambil alih Pandora. Salah satu misi utama mereka adalah menangkap Jake Sully yang dianggap sebagai tokoh kunci di balik perlawanan bangsa Na’vi.

Situasi ini menempatkan Jake Sully dalam posisi yang sulit karena dia tidak hanya harus melindungi orang-orang Na’vi, tetapi juga keluarganya. Jake dan keluarganya kemudian memutuskan untuk pergi ke kawasan Metkayina (negara karang laut), tempat yang dirasa tepat untuk mengasingkan diri dari kejaran negara langit. Apakah mereka berhasil bertahan?

Baca juga:
Review Film Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Menurut penulis, seperti karya-karya Cameron sebelumnya, Avatar: The Way of Water sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru, terutama dari sisi cerita. Menariknya, meski terasa standar, dan sedikit mengingatkan kita pada film-film seperti The Last Samurai, di mana seseorang jatuh cinta dengan dunia barunya dan berjuang melawan kaumnya sendiri untuk mempertahankan apa yang dicintainya. Cerita belum tentu menjadi hal yang lumrah ketika racikan sutradara mulai bermain dan bergulir dengan gemilang dari menit ke menit.

Baca juga:
Review Film Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Salah satu hal paling menonjol yang dilakukan Cameron adalah permainan emosional yang terjadi antara Jake Sully dan istri serta anak-anaknya. Penyajiannya mungkin tidak seromantis dan melankolis drama romantis kebanyakan, namun tetap mampu menjadi urat nadi kisah Avatar: The Way of Water.

Meski begitu, menurut penulis, kekuatan utama produksi terbaru 20th Century Studios terletak pada penyajian visualnya. James Cameron tampaknya memberikan standar atau level baru dalam memadukan performa computer-generated imagery (CGI) dan motion capture (mo-cap) ke layar lebar sehingga terasa sangat realistis dan halus. Wajar jika Avatar: The Way of Water telah ada selama 13 tahun untuk mencapai level yang lebih tinggi dari seri pertamanya.

Baca juga:
Review Film Argantara

Tingkat teknologi baru ini berdampak langsung pada kualitas urutan aksi yang disajikan. Hal ini memungkinkan sutradara untuk membuat koreografi pertempuran dan pertempuran yang mungkin sulit dicapai hanya dengan menggunakan aksi orisinal atau CGI generasi ‘tua’. Alhasil, berbagai adegan aksi yang dihadirkan Cameron tak hanya seru, tapi juga menakutkan.

Oleh karena itu, penulis sangat menyarankan untuk menonton sekuel ini di layar 3D, IMAX, atau IMAX 3D untuk mendapatkan pengalaman sinematik yang maksimal, dalam arti memanjakan mata dan telinga. Jangan lupa, film ini memiliki pemandangan bawah laut yang menakjubkan!!!

Rate this post
Baca juga:
Review Film Argantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *