Review Film Argantara
Review Film Argantara

Review Film Argantara

Posted on

Review Argantara – Berikut ini beberapa ulasan tentang review film Argantara yang tayang di bioskop indonesia terlebih film ini merupakan film terbaru yang tayang di tahun 2023 sekarang ini. Demi kalian para pecinta film akan kami berikan beberapa review Argantara dengan kritik saran yang mudah dipahami dan dimengerti.

Argantara merupakan film yang mungkin cukup berbahaya bagai para kaum remaja dan adik adik. Lebih berbahaya daripada horor paling gila, komedi paling garing, atau drama paling hambar. Jumlah penonton di hari pertama mencapai 101 ribu.

Baca juga:
Review Film Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Jika target pasar utama hanya mengisi 60% dari total jumlah, maka sekitar 60 ribu remaja Indonesia telah menyaksikan romantisasi pernikahan muda. Bukan tidak mungkin banyak dari mereka yang pulang kampung bercita-cita mengikuti jejak kedua karakter tersebut.

Review Tentang Film Argantara

Persoalan nikah muda bukan hanya perbedaan prinsip. Juga bukan propaganda dari “terbangun”. Pemerintah kita cenderung konservatif, tetapi mereka tetap membuat program-program untuk menekan angka tersebut.

Baca juga:
Review Film Avatar: The Way of Water

Karena ditinjau dari cabang ilmu apapun, baik kesehatan mental maupun psikis, menikah di usia muda sangatlah berisiko. Hanya demi mengeruk pundi-pundi rupiah dari anak-anak muda lugu yang belum tentu mengenyam pendidikan memadai, Argantara meromantisasi persoalan ini.

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Falistiyana, film ini berpusat pada dua remaja berusia 16 tahun, Argantara (Aliando Syarief) dan Syera (Natasha Wilona). Keduanya di sekolah menengah, tetapi temperamen mereka berlawanan. Syera adalah murid teladan, sedangkan Argantara dikenal cuek dengan statusnya sebagai ketua geng motor.

Baca juga:
Review Film Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Alkisah, ayah Argantara menyelamatkan nyawa ayah Syera (Rendi Khrisna). Sebagai bentuk balas budi, ayah Syera menandatangani perjanjian yang mengatur perjodohan masing-masing anak mereka. Mau lihat contoh orang tua yang egois sekaligus bodoh? Tonton film ini.

Mengapa anak-anak harus membuang nyawanya untuk melunasi hutang orang tuanya? Kenapa harus 16 tahun? Tidak bisakah perjodohan dilakukan pada usia yang lebih tepat?

Baca juga:
Review Film Avatar: The Way of Water

Kedua keluarga akhirnya bertemu. Ayah Argantara telah meninggal dunia, dan dalam pertemuan tersebut, ibu Argantara (Endhita) secara halus menyatakan bahwa memenuhi janji bukanlah sebuah kewajiban. Tapi ayah Syera bersikeras.

Argantara pun setuju, dengan alasan ingin menjadi anak yang berbakti. Apakah bentuk bakti itu tidak bisa disalurkan melalui hal-hal yang tidak merugikan orang lain?

Baca juga:
Review Film Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Ibu Syera (Putri Patricia) mengatakan bahwa keputusan akhir ada pada sang putri. Pernyataan itu dilontarkan Syera saat berdiri di depan ayahnya yang terbaring di ranjang rumah sakit.

Ia juga baru mendengar cerita bagaimana nyawa ayahnya diselamatkan oleh ayah Argantara. Apakah Syera tega menolak? Apa yang kita lihat adalah bentuk rasa bersalah alih-alih kebebasan memilih.

Baca juga:
Review Film Avatar: The Way of Water

Terlepas dari masalah pernikahan mudanya, Argantara tidak terlalu buruk. Naskah Riheam Junianti memang terkesan klise mengikuti standar percintaan remaja, namun chemistry Aliando dan Natasha (dua aktor berbakat yang layak mendapat proyek lebih baik) bisa membuat Anda tersenyum.

Bahkan Guntur Soeharjanto selaku sutradara masih piawai membuat filmnya enak dipandang lewat layout kamera yang dinamis, serta eksekusi beberapa adegan aksi yang cukup solid. Meski mirip dengan karya-karyanya sebelumnya, dramatisasi Guntur kerap melenceng.

Baca juga:
Review Film Avatar: The Way of Water

Momen ketika teman sekolah Syera dan Argantara mengetahui pernikahan mereka seharusnya hanya ada di sinetron. Guntur terlalu banyak. Mirip dengan penggunaan lampu berkedip di klimaks yang mewarnai layar selama hampir lima menit tanpa peringatan.

Jangankan penderita epilepsi, orang sehat seperti saya pun pusing karenanya.

Segelintir poin plus di atas terkesan minor dibandingkan dengan “dosa-dosa” yang dilakukan film ini. Ada sebuah ironi. Argantara lebih memilih menghabiskan waktu bersama gengnya daripada menemani istrinya yang sedang hamil.

Baca juga:
Review Film Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Kehamilan itu mengguncang pikiran Syera. Kedua hal ini sebenarnya sangat wajar. Remaja belum siap untuk hamil. Remaja masih ingin bergaul dengan teman-teman.

Argantara meromantisasi nikah muda, dengan anggapan bahwa nikah muda bisa dilakukan asalkan ada kemauan, namun sekaligus juga menunjukkan bahwa fenomena ini memicu masalah yang bisa dihindari jika pernikahan dilakukan di usia yang tepat. Film ini membantah argumennya sendiri.

Baca juga:
Review Film Avatar: The Way of Water

Tahun 2022 membawa keceriaan bagi industri perfilman Indonesia. Di arus utama, keseimbangan antara hiburan dan kualitas semakin kuat.

Di sela-sela, beberapa gelar mendulang prestasi di festival bergengsi. Ada juga film yang mampu memuncaki chart dunia di layanan OTT. Di tengah berbagai pencapaian tersebut, Argantara malah menutup tahun 2022 dengan mengajak kita mundur beberapa tahun.

Rate this post
Baca juga:
Review Film Avatar: The Way of Water

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *